Cara Terapi Pengobatan Dan Penyembuhan Depresi Berat

Depresi adalah penyakit suasana hati atau masalah yang dialami banyak orang pada berbagai usia dan kelas sosial. Depresi merupakan perasaan yang dialami oleh setiap orang pada satu masa dalam kehidupan mereka.

Depresi juga bisa disebut gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang.

Namun yang perlu diingat, setiap orang mempunyai perbedaan yang mendasar, yang memungkinkan suatu peristiwa atau perilaku dihadapi secara berbeda dan memunculkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain.

Permasalahan sesungguhnya yang dialami orang yang depresi adalah tidak mau atau malu mencari bantuan untuk menyembuhkan depresi.

Penderita depresi berusia lanjut rawan terkena kepikunan, mudah bingung dan bahkan kematian karena serangan jantung. Perasaan tidak aman dan tidak berharga bisa menyebabkan depresi yang sangat berat pada penderita yang yakin bahwa mereka diawasi dan dihukum. Gejala depresi yang paling serius adalah pemikiran tentang kematian.

Gejala

Gejala-gejala umum depresi yang muncul:

– Menurunnya produktivitas kerja

– Lebih suka menyendiri

– Duka berkepanjangan

– Stamina rendah dan sering merasa letih

– Bertambah atau berkurangnya nafsu makan

– Bertambah atau berkurangnya keinginan untuk tidur

– Stress, cepat marah dan frustrasi

– Tidak ada hasrat seksual

– Tidak memiliki harapan terhadap masa depan

– Makan berlebihan

– Kesulitan konsentrasi

– Berpikir ingin mati atau bunuh diri

– Terkadang, merasa berat di tangan dan kaki

– Gejala penyakit fisik yang tidak hilang dengan pengobatan seperti sakit kepala, masalah pencernaan (sulit buang air, diare, dll) dan nyeri kronis.

Penyebab

Berbagai penyebab depresi:

– Faktor keturunan

– Kurangnya Rasa Percaya Diri

– Lebih memperhatikan kesalahan

– Kepribadian introvert

– Peristiwa emosional (terutama kehilangan)

– Merasa Tertekan karena Berbagai Kewajiban Dalam Hidup

– Merasa Lemah

– Peristiwa dalam kehidupan sehari-hari

– Perubahan kimia dalam otak

– Efek samping obat

– Beberapa penyakit fisik

Makanan olahan khususnya yang ditujukan bagi mereka yang berdiet disinyalir bisa memicu terjadinya depresi. Mereka yang mengonsumsi makanan segar memiliki kemungkinan 26% lebih rendah terkena depresi di masa depan. Sebaliknya mereka yang mengonsumsi makanan olahan memiliki kemungkinan terkena risiko depresi sebesar 58% lebih tinggi.

Mereka yang menderita sakit kepala sebelah atau migrain berisiko lebih besar mengalami depresi, khususnya di kalangan perempuan. Temuan ini berdasarkan hasil analisa dari data penelitian yang dikumpulkan selama 14 tahun.

Tidak ada teori yang dapat menjelaskan hubungan antara depresi dan migrain. Meskipun beberapa dugaan menyebutkan bahwa perubahan hormon memainkan peran terkait munculnya depresi.

Faktor risiko depresi:

– Perempuan

– Kurang dukungan sosial

– Belum mengungkapkan status HIV

– Kegagalan terapi (ART atau lain)

– Kita sendiri atau keluarga mempunyai riwayat penyakit jiwa,penggunaan alkohol berlebihan atau narkoba

Perubahan pola hidup dapat memperbaiki depresi pada sebagian orang. Perubahan-perubahan tersebut antara lain:

– Olahraga teratur

– Berjemur pada sinar matahari

– Penanganan stres

– Konseling

– Tidur teratur

– Relaksasi

– Meditasi

– Merubah pandangan dan pola pikir

Depresi Berat

Sri Asoka Wardini (64 Tahun)

Kini Tak Lagi Berteriak-Teriak

“Ekspresi Wajahnya Segar Dan Mampu Merespons Pembicaraan Orang Lain”

Riwayat depresi Sri bersumber dari setumpuk kekecewaan yang dipendamnya. Saat Ia masih kecil, Ibu Sri mendidiknya dengan keras, bahkan terkadang main tangan. Menjelang dewasa Sri jatuh hati pada seorang pria, namun Ibunya tak setuju. Dengan hati hancur, Ia meninggalkan kampung halamannya di Bojonegoro dan pergi ke Jakarta. Di ibukota, Sri menikah dengan seorang pria yang menjanjikan kesejahteraan bila Sri mau menikahnya. Sayangnya, kenyataan yang di dapat tidak seperti yang dijanjikan.

Semua kekecewaan ini dipendam dipendam sendiri oleh Sri. Ia tak pernah membagi bebannya pada siapa pun. Suatu hari, Ia meledak. Ia mulai sering berteriak-teriak sendiri, meskipun masih nyambung bila diajak mengobrol oleh orang. Pada tahun 2007, suaminya meninggal. Peristiwa ini rupanya membawa duka yang mendalam. Sejak itu, ia hanya bisa bicara ‘waras’ selama lima menit. Selebihnya, Ia menceracau soal masa lalu. Ia juga mulai sering kabur dari rumahnya di Serpong karena ingin pergi ke rumah lamanya di Manggarai, masalahnya, Ia sering tersesat dan tak tahu jalan pulang.

Sekitar tahun 2008, Sri dibawa anaknya ke beberapa psikiater. Mereka memberi Sri obat penenang yang membuatnya lemas, mengantuk dan tidur seharian. Sri juga pernah mencoba berbagai pengobatan alternatif yang menggunakan pendekatan agama. Jenis pengobatan ini tak berhasil. Terakhir, putra Sri -Ratmoko- membawanya ke panti Rehabilitasi Mental di daerah Parung, Bogor.

Sri menghabiskan empat bulan di sana dengan biaya empat juta rupiah perbulan. “Ibu memang tidak lagi berteriak-teriak tapi anehnya refleksnya jadi lambat. Ia berjalan setapak-setapak dan bicaranya lambat. Rupanya, tempat itu memberikan obat dosis tinggi pada Ibu,” jelas Ratmoko.

Beberapa waktu setelah di pulangkan dari panti rehabilitasi, Sri tidak mampu berjalan. Selama dua hari, Ia tak bisa menggerakkan tangan dan kaki. Ekspresinya tampak kosong. Pada hari ketiga, Ia mulai bisa bicara sedikit, walau geraknya masih lambat. Saat itulah, seorang teman menelepon ratmoko dan menawarinya TNBB (TAHITIAN NONI® Bioactive Beverage™). Ratmoko bertanya berkali-kali apakah TNBB mampu mengobati ibunya. “Teman saya menjawab, ‘Insya Allah’.

“Akhirnya pada Juli 2010, Sri mulai mengonsumsi TNBB, 60 ml, 4x perhari, kemudian diturunkan 30 ml, 4x perhari. Setelah tiga minggu, Ia menunjukkan perubahan. Ekspresi wajahnya segar dan mampu merespons pembicaraan orang lain. Ia juga sudah bisa berjalan. Dulu, Sri harus dimandikan orang lain, tapi kini Ia bisa membuka baju, memakai handuk dan berjalan sendiri ke kamar mandi. Sejak pertengahan Agustus, Ia tak pernah lagi berteriak-teriak, tidurnya juga lebih nyenyak, tidak gelisah seperti dulu. Melihat perkembangan Ibunya, Ratmoko pun bisa bernapas lega….