Kisah pengidap Alergi Dingin, Asma, Maag, dan Penyempitan Pembuluh darah Otak

LindawatiSejak masih duduk di bangku SMP, saya sudah didera penyakit alergi dingin dan alergi debu. Udara dingin pada pagi hari atau debu rumah, akan langsung membuat saya bersin-bersin dan berakhir dengan sesak napas. Obat alergi dan Ventolin inhaler selalu menjadi sahabat setia saya pada saat itu.  Lindawati

Berikhtiar Mencari Kesembuhan, Berlabuh di Tahitian Noni

Seiring berjalannya waktu, saya pun mengidap penyakit maag. Puncaknya, di tahun 2003, dokter mengatakan ada penyempitan di pembuluh darah otak. Saat itu saya merasakan pusing dan hilang kesadaran secara tiba-tiba. Saat general check up, diketahui juga bahwa kadar kolesterol pun tinggi yaitu 260 mg/dL dan ada gangguan fungsi hati sehingga angka SGOT dan SGPT juga ikut naik.

Dengan sederetan penyakit di atas, saya menemui beberapa orang dokter dengan harapan penyakit saya dapat tertolong. Mulai dari dokter umum, dokter spesialis paru, asma dan alergi, dokter ahli syaraf, dokter penyakit dalam dan dokter spesialis mata. Ketika minum obat, penyakit agak reda, rasa pusingnya hilang.

Tetapi ketika obat habis penyakit saya kambuh lagi. Saya berpikir, “Sampai kapan saya harus minum obat ?” dan saya harus menanggung efek dari minum obat tersebut yaitu susah BAB.

Bertahun – tahun saya mencari kesembuhan termasuk pengobatan alternatif. Suatu hari di tahun 2007, seorang teman kuliah saya, Bapak Ridwan Lajin memperkenalkan Tahitian Noni kepada saya. Di hari ke-4 minum Tahitian Noni dengan dosis 2 x 60ml/hari saya mengalami sakit perut yang hebat, tetapi tetap saya lanjutkan konsumsinya. Di hari ke-9, saya mencoba makan capcay yang biasanya tidak pernah saya makan karena sayurannya mengandung gas, seperti kol dan lain-lain. Alhamdulillah, sakit maag saya tidak kambuh lagi sehabis makan capcay tersebut. Konsumsi Tahitian Noni terus dilanjutkan. Setelah dua bulan konsumsi, saya mencoba pergi berlibur ke daerah dengan udara sangat dingin, alergi dingin dan asma yang selama ini saya derita juga tidak kambuh.

Karena nilai pemeriksaan kolesterol saya pada saat itu angkanya cukup tinggi, saya tingkatkan takarannya menjadi 4 x 60 ml /hari selama 10 hari dan hasilnya nilai kolesterol yang awalnya 260 mg/dL kembali normal menjadi 136 mg/dL. Kemudian takaran Noni saya turunkan kembali menjadi 3 x 60 ml/hari. Dan setelah satu bulan, nilai pemeriksaan Fungsi Hati SGOT dan SGPT pun normal kembali, yaitu SGOT 15 u/L dan SGPT 11 u/L. Ini semua juga didukung dengan menjaga pola makan dan pola hidup yang baik.

Alhamdulillah, dengan mengonsumsi Tahitian Noni perlahan-lahan semua penyakit saya sirna. Bagi yang masih menderita sakit, jangan ragu untuk mengonsumsi Tahitian Noni dengan dosis yang tepat, karena produk ini berlandaskan penelitian/uji klinis (Human Clinical Trial), yaitu penelitian yang menguji potensi manfaat, keamanan dan mekanisme kerjanya langsung kepada manusia.