Pengobatan Vertigo Akut

Vertigo bisa diartikan sebagai bentuk gangguan di telinga bagian dalam sehingga menyebabkan ruang sekeliling serasa berputar atau melayang dan membuat penderita pusing. Adapun penyebab terjadinya vertigo adalah akibat hilangnya masukan perifer karena adanya kerusakan pada labirin dan saraf vestibular atau juga karena adanya kerusakan uilateral dan sel inti vestibular. ( sumber wikipedia “id.wikipedia.org/wiki/Vertigo” )

Secara medis, pengobatan vertigo tergantung kepada sebab-sebab terjadinya. Untuk vertigo ringan biasanya menggunakan dimenhidrinat, meklizin, skopolamin, dan perfenazin. Namun penggunaan obat-oabatan diatas bisa menyebabkan kantuk, dan terutama terjadi pada usia lanjut, sedangkan obat yang memiliki efek kantuk yang paling ringan adalah skopolamin.

Kami tidak menganjurkan penggunaan obat-obat kimia karena efek buruk dalam jangka panjang yang ditimbulkannya. Pengalaman pengobatan vertigo di bawah ini bisa dijadikan sebagai pertimbangan bagi anda dalam mengobati vertigo.

 Kisah Pengidap Vertigo

H. Laisa Hamisah

vertigo-akut-tertolong-dengan-tahitian-noniBapak H. Laisa Hamisah, 49 tahun menderita vertigo sejak usia 9 tahun. Pada tahun 1985, penyakit ini kembali datang dan menjadi semakin parah pada tahun 2011. Pusing, kuping berdengung, mual sampai muntah seringkali dialami oleh Pak Laisa. Kunjungan ke berbagai rumah sakit hingga pengobatan dari profesor terkemuka tidak juga menyelesaikan masalah vertigo ini. Obat-obatan dari rumah sakit yang dikonsumsi hanya bisa bertahan selama 6 jam saja.Tidak jarang teman kantor Pak Laisa harus mengantarnya pulang karena beliau sama sekali tidak bisa beraktifitas ketika vertigo menyerang.

Di tahun 2008, seorang teman menyarankan untuk mencoba produk TNBB. Namun karena belum yakin, Pak Laisa tidak mengikuti saran temannya tersebut. Hingga pada tahun 2011, beliau mencari informasi mengenai produk herbal di internet yang bisa menyembuhkan penyakit vertigo dan menemukan TNBB sebagai produk yang direkomendasikan berdasarkan data klinis dan ilmiah yang sangat komprehensif.

Di akhir April 2012, beliau mulai mengonsumsi TNBB. Pada minggu pertama dan minggu ketiga, Pak Laisa mengonsumsi TNBB dengan takaran 3×2 sendok makan atau 15 cc. Hari keempat sampai ketujuh naik menjadi 3×4 sendok makan atau 30 cc. Di hari ketujuh dan sampai sekarang takarannya ditambah menjadi 3×60 cc.

“Alhamdulillah di minggu ketiga sudah terasa enak, walau sebenarnya di minggu pertama sudah merasakan perubahan yang signifikan. Bahkan di hari ketiga saya mengalami detoksifikasi melalui BAB,” katanya menceritakan.

Sudah 1 bulan belakangan ini, Pak Laisa merasa sangat nyaman karena terbebas dari gejala vertigo yang dahulu sering dialaminya. Pak Laisa juga berharap TNBB dapat membantu orang-orang yang sangat membutuhkan solusi bagi masalah kesehatan mereka dan ikut membantu meningkatkan derajat masyarakat Indonesia.