Cara Terapi Pengobatan Dan Penyembuhan Addictive Rokok

Kecanduan Rokok

Kebiasaan merokok yang sudah menjadi kecanduan akan sangat merugikan kita. Apalagi dampak dari kecanduan rokok yang terus menerus tidak hanya menyerang jantung dan paru-paru, tetapi juga bisa menyebabkan kerusakan pada struktur otak.

Dari hasil studi, perokok saat ini mungkin lebih banyak dipengaruhi oleh kecenderungan genetik dari generasi masa lalu, sehingga membuatnya lebih kecanduan dan sulit untuk berhenti.

Orang yang mengalami kecanduan, biasanya otak akan mengalami gangguan pada bagian yang mengatur reward atau rasa senang. Karena kecanduan dicirikan oleh perilaku yang berulang, maka otak yang berfungsi sebagai pusat memori atau ingatan juga akan terkena dampaknya.

Mekanisme ini terjadi baik pada kecanduan yang dipicu oleh zat-zat adiktif termasuk narkoba dan rokok, maupun stimulasi yang lain seperti seks dan pornografi. Makin lama dan makin sering mendapat stimulasi, maka otak akan semakin cepat mengalami kerusakan.

Kecanduan yang terus menerus akan memberikan kerusakan di otak, sama seperti orang merokok. Hasil temuan ini menunjukkan bahwa faktor genetik memainkan peran dalam mempengaruhi keberhasilan berhenti merokok. Hal ini karena pada kembar identik DNA nya sama sedangkan pada fraternal tidak.

Kerusakan pada perokok tidak hanya terjadi di otak melainkan di seluruh tubuh. Nikotin dan ratusan jenis racun di dalam asap rokok bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, paru-paru dan organ lain termasuk organ-organ reproduksi.

Apapun pemicunya, kecanduan sama saja seperti penyakit kronis lainnya seperi diabetes dan hipertensi. Sebagai penyakit otak yang kronis atau menahun, kecanduan bisa kambuh meski sudah pernah sembuh sehingga terapinya harus berkelanjutan.

Saat ini orang merokok bukan karena alasan sosial, tapi pada kenyataannya cenderung merokok karena ketergantungan mereka terhadap nikotin sehingga lebih sulit untuk berhenti.

Menghentikan Kecanduan Rokok dengan Merangsang Otak

Merangsang bagian tertentu pada otak dapat memanipulasi keinginan untuk merokok. Temuan ini diyakini bisa menjadi metode pengobatan baru untuk membantu orang mengusir kebiasaan merokok.

Menggunakan teknologi scan otak, para peneliti dari Duke University Medical Center mengidentifikasi daerah otak yang menjadi aktif ketika mencandu rokok, yaitu korteks serebral dan sistem limbik yang berperan dalam pengaturan emosi. Berdasarkan penelitian ini, peneliti kemudian menggunakan stimulasi magnetik ke daerah-daerah otak untuk memanipulasi hasrat merokok.

Kami langsung merangsang wilayah otak frontal menggunakan medan magnet dan memperlihatkan bahwa hal itu menjadi isyarat untuk membangkitkan keinginan yang sangat untuk merokok ketika melihat hal yang berhubungan dengan rokok.

Dengan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana otak mempengaruhi respon keinginan, strategi untuk memblokir respon ini dapat dibuat dan perawatan untuk menghentikan kebiasaan merokok yang lebih efektif dapat dikembangkan.

Dijelaskan bahwa stimulasi otak pada frekuensi rendah tidak akan mengurangi ketagihan perokok, namun stimulasi frekuensi tinggi memiliki efek yang lebih besar ketika perokok melihat isyarat untuk tidak merokok. Stimulasi otak frekuensi tinggi juga mampu mengurangi keinginan untuk merokok dan menghentikan kecanduan rokok.

Penelitian ini berimplikasi pada pengendalian dari serangkaian keinginan. Penelitian tambahan akan diperlukan untuk menentukan nilai potensi pengulangan agar dpat diterapkan sebagai pengobatan untuk mengatasi kebiasaan merokok.

Tips Mengurangi kecanduan rokok

* Mencoba atau menunda keinginan merokok

* Jangan memperbolehkan diri merokok sampai habis satu batang

* Menghindari dorongan atau pemicu yang bisa membuat keinginan merokok anda muncul

* Melakukan beberapa kegiatan fisik

* Mencoba relaksasi

* Mencoba Terapi pengganti rokok

* Selalu ingat manfaat jika anda tidak merokok

Terapi Tahitian Noni

TNBB dapat mengatasi gangguan adiksi nikotin.

TNBB mengaktifkan enzim Glutamat decarboxylate enzim yang berada di dalam syaraf, mengatasi adiksi nikotin dan obat-obatan, mengatur emosi, mekanisme kerja dengan meningkatkan ambang syaraf. 2. Iridoid dalam Tahitian Noni Bioactive Beverage.

Memblok reseptor nikotin di otak : nAchRs sub unit alfa 4 nAchRs, meregulasi reseptor Dopamin D3, mengatur resep toropiod

mu, kappa dan delta, meregulasi reseptor NMDA =N-methyl-D-aspartate.

Dosis:

3x60cc (pagi, siang dan malam).

Addictive Rokok

Ir. Muammar

AKU BEBAS!

“…sekitar 2 bulan sejak meminum TNBB, saya terbebas dari jerat rokok”

SIAPA pun yang baru mengenal Muammar mungkin takkan percaya kalau dulu ia seorang perokok berat. Saat ini, Muammar bermusuhan dengan rokok. Jangankan merokok, ia bahkan tak tahan bersebelahan dengan orang yang berbau rokok. Padahal, Muammar pernah merokok sejak ia duduk di bangku SMP. Kebiasaan buruk ini mulai menggila ketika ia masuk SMA dan kuliah. Dari rokok kretek dan filter dicobanya. Terakhir, ia merokok minimal dua bungkus sehari. Lama-lama, Muammar gerah sendiri denga habit ini, apalagi kesehatannya jadi taruhan. Ia tersiksa karena dada sesak dan napas yang pendek-pendek. Ia juga pernah mengalami flek paru-paru. Singkat kata, ia memutuskan untuk berhenti.

Muammar pernah mengganti rokok dengan mengunyah permen. Ia juga pernah mencoba beberapa obat yang katanya mampu menghentikan kebiasaan merokok. Namun tak ada yang berhasil. Kecanduannya sudah terlalu parah. Suatu hari, seorang teman memberinya TNBB (TAHITIAN NONI® Bioactive Beverage™ – Original). Teman itu cuma mengatakan kalau produk ini bagus untuk kesehatan.

“Tadinya, saya paling ‘alergi’ pada orang-orang yang berjualan obat, tapi untunglah saya mencoba melihat-lihat situs TNBB dulu. Saya baca-baca hasil penelitian. Sepertinya masuk akal, jadi saya tertarik mencoba,” kenang Muammar. Berbekal semangat untuk lebih sehat, Muammar mulai berteman dengan TNBB tahun 2008, ia meminum TNBB dua kali sehari, masing-masing 30 ml. Dampak positif langsung dirasakannya. ia merasa lebih bugar. Muammar lalu meningkatkan frekuensi TNBB menjadi empat kali sehari.

Sekitar satu bulan setelah pertama mengonsumsi TNBB, Muammar mulai batuk hebat, mengeluarkan dahak dan bahkan percikan darah. Tapi Muammar tak menyerah. Ia tetap meneruskan konsumsi TNBB dan menganggap reaksi ini sebagai detoks, tentu saja, TNBB bukan sulap. Muammar tidak langsung berhenti total, namun semakin lama, rokok yang diisapnya perhari semakin sedikit. Akhirnya, sekitar dua bulan sejak meminum TNBB, Muammar terbebas dari jerat rokok.

“Saya lega. Dulu, setiap kali mengajar, saya sebentar-sebentar harus keluar ruangan untuk merokok. Kini tidak lagi. Saya juga lebih kuat berdiri saat mengajar. Tentu saja, selain konsumsi TNBB, yang terpenting adalah niat. Semua akan sia-sia bila niat kita tidak kuat. Sekarang saya merasakan nikmatnya hidup sehat. Keluarga, teman dan orang-orang sekitar pun mendapat manfaatnya.