Cara Terapi Pengobatan Dan Penyembuhan Lupus

systemic-lupus-erythematosus-2

Apakah Lupus itu?

Apakah Lupus itu?
Penyakit lupus adalah penyakit sistem imunitas di mana jaringan dalam tubuh dianggap benda asing. Reaksi sistem imunitas bisa mengenai berbagai sistem organ tubuh seperti jaringan kulit, otot, tulang, ginjal, sistem saraf, sistem kardiovaskuler, paru-paru, lapisan pada paru-paru, hati, sistem pencernaan, mata, otak, maupun pembuluh darah dan sel-sel darah.

Lupus atau dalam istilah medis Systemic Lupus Erythematosus (SLE) disebut juga penyakit seribu wajah karena gejalanya bisa sangat bervariasi tergantung bagian mana yang diserang. Tak jarang para dokter salah mendiagnosis Lupus sebagai penyakit lain.

Tubuh memiliki kekebalan untuk menyerang penyakit dan menjaga tetap sehat. Namun, dalam penyakit ini kekebalan tubuh justru menyerang organ tubuh yang sehat. Penyakit Lupus diduga berkaitan dengan sistem imunologi yang berlebih. Dalam tubuh seseorang terdapat antibodi yang berfungsi menyerang sumber penyakit yang akan masuk dalam tubuh. Uniknya, penyakit Lupus ini antibodi yang terbentuk dalam tubuh muncul berlebihan. Hasilnya, antibodi justru menyerang sel-sel jaringan organ tubuh yang sehat. Kelainan ini disebut autoimunitas.

Antibodi yang berlebihan ini, bisa masuk ke seluruh jaringan dengan dua cara yaitu :.

  • Pertama, antibodi aneh ini bisa langsung menyerang jaringan sel tubuh, seperti pada sel-sel darah merah yang menyebabkan selnya akan hancur. Inilah yang mengakibatkan penderitanya kekurangan sel darah merah atau anemia.
  • Kedua, antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang pembetukan antibodi), membentuk ikatan yang disebut kompleks imun. Gabungan antibodi dan antigen mengalir bersama darah, sampai tersangkut di pembuluh darah kapiler akan menimbulkan peradangan.

Faktor resiko Penyakit Lupus

Penyakit ini dapat mengenai semua lapisan masyarakat, 1-5 orang di antara 100.000 penduduk, bersifat genetik, dapat diturunkan. Wanita lebih sering 6-10 kali daripada pria, terutama pada usia 15-40 tahun. Bangsa Afrika dan Asia lebih rentan dibandingkan kulit putih. Dan tentu saja, keluarga Odapus. Timbulnya penyakit ini karena adanya faktor kepekaan dan faktor pencetus yaitu adanya infeksi, pemakaian obat-obatan, terkena paparan sinar matahari, pemakaian pil KB, dan stres.

Penyakit ini justru kebanyakaan diderita wanita usia produktif sampai usia 50 tahun sekalipun ada juga pria yang mengalaminya. Oleh karena itu dianggap diduga penyakit ini berhubungan dengan hormon estrogen.

Lupus bukan karena virus atau bakteri, bukan pula penyakit menular atau menurun. Namun keterlibatan genetika hormon dan lingkungan diduga sebagai penyebab kuatnya. Jika lupus adalah penyakit keturunan seharusnya pasangan kembar identik akan kena lupus semuanya jika orangtuanya adalah odapus. Namun dalam sebuah penelitian yang melibatkan 100 pasangan kembar, hanya 30 yang dua-duanya kena lupus. Jadi ini hanya berkaitan dengan faktor resiko bahwa mereka dengan keluarga odapus memiliki faktor resiko tinggi terkena Lupus.

Faktor genetik memang mempengaruhi kerentanan seseorang untuk terkena lupus namun bukan dalam hubungan kekerabatan antara orangtua dan anak. Pengaruh genetik lebih terkait dengan epidemologi, misalnya orang Asia diketahui 2 kali lebih rentan kena lupus dibanding orang Eropa.

Faktor resiko Kanker Pada Penderita Lupus

Meski tidak berhubungan secara langsung, pasien Lupus memiliki risiko lebih tinggi terkena berbagai jenis kanker. Tapi khusus untuk kanker kolon atau usus besar, risikonya pada orang dengan lupus (Odapus) justru lebih kecil.

Jenis-jenis kanker yang risikonya meningkat pada odapus (orang dengan lupus) adalah sebagai berikut:

  • Kanker payudara
    Diduga karena lupus mempengaruhi produksi hormon esterogen.
  • Limphoma atau kanker ganas pada sel darah putih.
    Diduga karena stimulasi berlebih pada sel limfosit B yang merupakan komponen sistem kekebalan tubuh.
  • Kanker paru-paru
    Pada Odapus risiko kanker paru-paru meningkat 1,4 kali dibanding populasi umum. Risikonya lebih tinggi lagi jika Odapus adalah seorang perokok.
  • Kanker leher rahim
    Peningkatan risiko kanker leher rahim (serviks) meningkat terutama jika Odapus memiliki riwayat infeksi menular seksual dan menggunakan kontrasepsi.
  • Kanker endometrium
    Endometrium atau rahim Odapus rentan terserang kanker, meski penyebabnya tidak diketahui.

Meskipun demikian tidak semua jenis kanker akan meningkat risikonya akibat lupus

Penyebab Penyakit Lupus

Hingga saat ini penyebab Lupus belum diketahui secara pasti. Kemungkinannya disebabkan oleh :

  • Faktor lingkungan. Misalnya : infeksi, cahaya ultraviolet (matahari), stres dll.
  • Faktor genetik. Kemungkinan Lupus diturunkan sangatlah kecil.
  • Faktor hormon. Belum diketahui jenis hormon penyebabnya pada perempuan, tetapi risiko timbulnya Lupus pada perempuan dewasa usia subur adalah delapan kali lebih tinggi dibanding laki-laki dewasa.
  • Faktor sinar matahari. Diperkirakan sinar matahari yang memancarkan sinar ultraviolet dapat merangsang peningkatan hormon estrogen sehingga mempermudah terjadiya reaksi autoimmun. Teriknya sinar matahari merupakan salah satu faktor pencetus kekambuhan pasien.

Pemicu kambuhnya Lupus (Flare up). Diantaranya adalah :

  • Stres
  • Terkena sinar matahari langsung
  • Beban kerja yang berlebihan
  • Pemakaian obat tertentu

Gejala Penyakit Lupus

Gejala-gejala penyakit dikenal sebagai Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Eritomatosus artinya kemerahan. sedangkan sistemik bermakna menyebar luas keberbagai organ tubuh.

Gejala-gejala yang umum dijumpai adalah:

  • Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari serta timbulnya gangguan pencernaan.
  • Gejala umumnya penderita sering merasa lemah, kelelahan yang berlebihan, demam dan pegal-pegal. Gejala ini terutama didapatkan pada masa aktif, sedangkan pada masa remisi (nonaktif) menghilang.
  • Pada kulit, akan muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu. Kadang disebut (butterfly rash). Namun ruam merah menyerupai cakram bisa muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan kadang-kadang bersisik. Melihat banyaknya gejala penyakit ini, maka wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala saja, harus dicurigai mengidap Lupus.
  • Anemia yang diakibatkan oleh sel-sel darah merah yang dihancurkan oleh penyakit LUPUS ini
  • Rambut yang sering rontok dan rasa lelah yang berlebihan
  • Sakit pada tulang/sendi
  • Demam berkepanjangan/panas tinggi bukan karena infeksi
  • Anemia (kurang darah)
  • Gangguan ginjal (protein banyak terbuang lewat urin)
  • Sakit di dada bila menghirup napas panjang
  • Bercak merah pada wajah membentuk pola kupu-kupu (butterfly rash)
  • Sensitif terhadap sinar matahari (fotosensitif)
  • Rambut rontok
  • Ujung jari pucat atau kebiruan
  • Stroke
  • Penurunan berat badan
  • Sakit kepala
  • Kejang
  • Sariawan yang hilang timbul
  • Keguguran

Pengobatan Lupus

Ada dua jenis pengobatan untuk lupus, pengobatan medis atau sering disebut sebagai pengobatan konvensional, dan pengobatan non-medis atau sering orang menyebutnya sebagai pengobatan tradisional, pengobatan herbal, pengobatan alternatif, dll.

Namun yang perlu anda ketahui adalah bahwa masing-masing pengobatan memiliki tujuan sendiri, kelemahan dan kelebihan yang akan dijelaskan dalam tulisan berikut dibawah ini.

Pengobatan Lupus secara Medis

Secara medis Lupus (Systemic Lupus Erythematosus/SLE) tidak bisa disembuhkan, namun untuk penyakit lupus terdapat rangkaian fase aktif (flare) dan fase tenang. Untuk itu Tujuan pengobatan yang tersedia untuk lupus adalah mencegah kerusakan organ, mengurangi tingkat keparahan, dan meminimalkan dampaknya pada kehidupan penderita SLE.

Dosis obat yang diberikan disesuaikan dengan gejala yang dirasakan dan pada tingkat keparahan. Oleh karena itu tidak dosis yang sama untuk setiap pasien bahkan untuk satu pasien memiliki dosis yang berbeda.

Obat untuk lupus yang sering diresepkan dokter untuk penderita lupus adalah:

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).
    Pemberian obat ini adalah ditujukan untuk mengurangi gejala nyeri sendi atau otot. Obat yang diresepkan untuk antiinlamasi nonsteroid oleh dokter seperti ibuprofen dan diclofenac. Hanya saja kedua jenis obat ini efek samping yang tidak bisa diabaikan, efek samping tersebut seperti masalah pada ginjal, perdarahan lambung, dan peningkatan resiko penyakit jantung.
  • Kortikosteroid.
    Kortikosteroid diberikan oleh dokter ketika penderita lupus (SLE) mengalami kondisi gejala yang parah atau mengalami fase aktif. Kortikosteroid diberikan karena efektifitas dan kecepatannnya dalam mengurangi peradangan dengan cepat dan efektif. Pemberian obat diberikan secara bertahap, dari dosis tinggi kemudian dikurangi secara bertahap seiring dengan membaiknya kondisi penderita lupus. Namun, beberapa efek samping yang bisa timbul jika digunakan dalam jangka panjang dan dalam dosis yang tinggi adalah penipisan kulit, pengeroposan tulang, bertambahnya berat badan, tekanan darah, risiko infeksi, dan peningkatan gula darah. Untuk itulah obat ini tidak bisa digunakan sembarangan, harus dibawah pengawasan dokter.
  • Hydroxychloroquine.
    Hydroxychloroquine sebenarnya obat yang sering digunakan untuk menangani malaria. Walaupun begitu, ternyata jenis obat ini juga efektif dalam mengobati beberapa gejala lupus seperti nyeri sendi dan otot, ruam pada kulit, dan kelelahan. Hydroxychloroquine lebih aman dibandingkan dengan kedua jenis obat di atas. Oleh karena itu, dokter menganjurkannya untuk pemakaian jangka panjang, tujuannya adalah untuk mencegah lupus aktif kembali, dan mencegah timbulnya komplikasi yang lebih serius. Walaupun aman, bukan berarti penggunanaan Hydroxychloroquine bebas dari efek samping, beberapa efek samping yang ditimbulkannya bisa terjadi meliputi gangguan pencernaa, diare, sakit kepala, dan timbulnya ruam pada kulit.
  • Imunosupresan.
    Pemberian Imunosupresan adalah ditujukan untuk menekan sistem kekebalan tubuh agar tidak aktif bekerja yang secara spesifik bisa meringankan gejala lupus dengan cara menghambat kerusakan pada bagian orga yang sehat akibat serangan lupus. Beberapa jenis obat Imunosupresan yang biasa diresepkan dokter adalah azathioprine, cyclophosphamide, mycophenolate mofetil, dan methotrexate. Efek samping akibat pemakaian obat jenis ini yang kemungkinan bisa timbul adalah:

    • Muntah.
    • Kehilangan nafsu makan.
    • Pembengkakan gusi.
    • Diare.
    • Kejang-kejang.
    • Mudah lebam atau berdarah.
    • Jerawat.
    • Sakit kepala.
    • Bertambahnya berat badan.
    • Pertumbuhan rambut secara berlebihan.

    Penekanan sistem kekebalan tubuh oleh imunosupresan akan berdampak meningkatkan resiko terjadinya infeksi. Bahkan gejala tersebut mirip dengan gejala aktif lupus seperti batuk disetai dengan sesak, diare, demam, sensasi terbakar saat buang air kecil, dan kencing darah (hematuria).

    Oleh karena itu, menghindari kontak dengan mereka yang sedang mengalami infeksi baik infeksi ringan maupun berat harus dilakukan. Efek samping lainnya yang kemungkinan bisa terjadi adalah menyebabkan keruskan hati. Pemeriksaan berkala seperti tes dara secara rutin harus terus dilakukan selama menggunakan imunosupresan.

  • Rituximab.Rituximab adalah pilihan terkhir untuk pengobatan lupus. Rituximab digunakan oleh dokter ketika obat yang lain sudah tidak efektif bagi penderita lupus. Cara kerja Rituximab adalah menginca sel B dan membunuhnya, Sel B adalah sel yang memproduksi antibodi. Rituximab biasanya diberikan melalui infus. Sebagaimana umumnya obat medis/konvensional, obat ini juga mengandung efek samping yang dapat muncul seperti muntah, pusing, serta gejala yang mirip flu, misalnya menggigil dan demam, juga dapat menimbulkan reaksi alergi.

“Pengobatan medis ada masa untuk dihentikan, yaitu ketika efek samping sudah merusak organ vital seperti ginjal, jantung, dll”

Pengobatan Lupus Non-medis

Pengobatan non-medis adalah menggunakan pengobatan dengan bahan-bahan alami atau herbal. Konsep yang digunakan adalah naturopati, yaitu penyembuhan dengan cara memperbaiki inti dari masalah timbulnya penyakit. Ahli naturopati percaya bahwa munculnya penyakit karena ada yang salah dalam sistem tubuh atau mereka menyebutnya sebagai error metabolism.

Oleh karena itulah, tujuan pengobatan tidak hanya mengurangi gejala, tetapi juga perbaikan sistem tubuh agar bekerja dengan normal. Selain memiliki efektifitas yang tidak kalah dengan pegobatan medis dalam mengurangi gejala, pengobatan non-medis juga sangat aman dalam pemakaian jangka panjang, bahkan dianjurkan untuk memperoleh efek yang meluruh.

Obat herbal tidak seperti obat medis yang hanya bermanfaat pada penyakit tertentu saja, tetapi memiliki pengobatan berspektrum luas, juga menjangkau banyak penyakit. Tentu saja tidak semua herbal menjangkau semuanya, tetapi perlu anda ingat bahwa obat herbal hampir memiliki efek samping yang merusak.

Di bawah ini adalah bahan herbal yang bisa digunakan untuk pengobatan dan penyembuhan lupus:

1. Gamat (Teripang)

Teripang mengandung senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai antioksidan yang mampu mencegah terjadinya kerusakan sel dan jaringan tubuh, dan memiliki kemampuan untuk regenerasi sel. Teripang juga mengandung anti-inflamasi yang sangat bermanfaat untuk mengurangi gejala rasa nyeri dan pembekakan pada lupus. Selain itu teripang juga mengandung steroid alami yang membantu tubuh untuk meningkatkan energi.

Kandungan steroid sangat penting bagi penderita lupus, steroid bisa mengurangi gejala lupus terkait dengan rasa lelah ketika beraktifitas. Tidak seperti steroid dari obat medis yang memiliki efek samping yang berupa kerapuhan tulang, steroid yang terdapat dalam teripang tidak memiliki efek samping yang merugikan bagi kesehatan, walaupun dikonsumsi terus menerus dalam jangka panjang.

Dengan demikin konsumsi teripang akan menambah vitalitas penderita lupus, membuat badan menjadi bugar, dan mencegah terjadinya kekambuhan karena ketidakcukupan energi ketika beraktifitas.

Konsumsi gamat setiap hari akan mencegah terjadinya fase aktif pada lupus sehingga penderita lupus bisa beraktiftas dengan normal.

2. Centella Asiatica (pegagan)

Daun pegagan bersifat adaptogenik yang bisa memberikan efek penenang bagi penderita lupus, detoksifikasi untuk menetralisir racun yang disebabkan adanya masalah dengan autoimun, penambah darah karena pada umumnya penderita lupus menderita anemia, dan sebagai rileksasi pada sistem saraf pusat.

Manfaat lainnya untuk penderita lupus adalah mencegah terjadinya gejala lupus seperti peradangan pada kulit dan nyeri di persendian.

3. Propolis

Propolis memiliki khasiat sebagai anti-inflamasi. Kandungan bioaktif ini sangat membantu untuk meredakan peradangan yang terjadi akibat lupus.

Ketiga bahan herbal tersebut lebif efektif jika dibuat satu komposisi. Ketiganya dapat bekerja secara sinergi dalam membantu penyembuhan lupus.

Beberapa Terapi Lupus di bawah ini bisa membantu agar lupus tidak aktif :

  • Hindari kontak langsung dengan sinar matahari
  • Hindari sumber radikal bebas
  • Konsumsi antioksidan
  • Kurangi kelebihan berat badan
  • Perbanyak mengkonsumsi buah dan sayur
  • Banyak mengkonsumsi air putih
  • Kurangi asupan lemak