Managemen pada Kanker Serviks

  1.  Managemen Tumor Insitu
    • Usia.
    • Kebutuhan fertilitas.
    • Dan kondisi medis lainnya.
    • Fenyebaran penyakitnya harus diidentifikasi dengan baik.
      Karsinoma insitu digorongkan sebagai High Grade Skuamous Intraepitelial. Lesion (HCSIL). Beberapa terapi yang dapat digunakan:
      • Loop electrosurgicar excision procedure (LEEP). pada kasus yang khusus maka LEEP dapat dilakukan selain konisasi. Keungguran LEEP adalah dapat bertindak sebagai biopsi luas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Keberhasilan LEEP mencapai 90%.+ Konisasi. Keunggulan konisasi mencapai 70-92%.+ Krioterapi dengan bimbingan kolposkopi. Teknik yang dapat dilakukan untuk terapi karsinoma insitu adarah krioterapi. yang keberhasirannya mencapai 80-90%. Apabira lesi tidak luas (<2,5 cm) maaka keberhasiran tidak akan turun. Sedangkan jika lesi meluas (> 2,5 cm). Maka tetapi turun sampai 50%.
      • Vaporisasi laser. Evaporasi laser pada HGSIL memberikan keberhasilan sampai 94% untuk lesi tidak luas dan92% untuk lesi luas. HGSIL yang disertai NIS III memberikan indikasiyang kuat untuk dilakukan histerektomi.Pada 795 kasus HGSIL yang dilakukan dengan konisasi didapatkan risiko residif atau kegagalan 0,9-1,2%.
  2. Manajemen Mikroinvasif
    • Diagnosa untuk stadium IA1 dan IA2 hanya dapat diberitahukan setelah adanya pemeriksaan intensif Pemeriksaan intensif dapat dilakukan dengan:
      • Biopsi cone dengan batas sel-sel normal, Pemeriksaan dengan biopsi positif menunjukkan CIN III atau kanker invasive. Bila hasil menunjukkan CIN Ill maka sebaiknya dilakukan biopsi cone ulangan. Sebab stadium penyakitnya lebih tinggiyaitu lB.
      • Trakelektomi
      • Histerektomi.
      • Kolposkopi

    Kanker Serviks Kanker Mematikan pada Wanita 2Pemeriksaan dengan kolposkopi dianjurkan untukkemungkinan adanya Vaginal Intraepithelial Neoplasia (VAIN). Hal ini dilakukan sebelum terapi definitif. Pada staging serviks 1A1 dapat dilakukan dengan histerektomitotal baik abdominal maupun vaginal. Apabila ada VAIN maka vagina harus ikut diangkat. Pertimbangan fertilitas pasien. Pasien dengan stadium ini mengarahkan terapi hanya pada biopsi cone.

    Diikuti dengan Pap’s smear dengan interval 4 bulan, 10 bulan, dan l2 bulan bila hasilnya negatif. Modified radical hysterectomy adalah untuk stadium serviks IA2.
    stadium ini berasosiasi dengan penyebaran pada kelenjar limfe sampai 10%. Selain dengan modified radical hysterectomy juga diikuti dengan limfadenektomi. Pada stadium lA2 bila fertilitas tidak ditemukan dan terdapat invasi ke kelenjar limfe maka dapat dilakukan:

      • Biopsy cone.
      • Limmfadenektomi laparoskopi.
      • Radikal trakelektomi.

    Observasi selanjutnya dilakukan dengan Pap’s smear dengan interval 4 bulan,10 bulan dan 12 bulan.